16 Januari 2009

MAAFKAN, BUKAN AKU TIDAK SETIA

Langkah, rezeki, pertemuan, dan maut adalah suatu takdir Allah swt yang tidak bisa kita elakkan, meski terkadang sebagai manusia kita merasa sangat berat untuk menerima takdir yang menimpa kita, tapi Tuhan Maha Tahu Segalanya, mana yang terbaik yang harus terjadi untuk manusia, meski terkadang sangat pahit untuk menerimanya. Seperti kisah berikut ini, yang dituturkan oleh Icut (sebut saja demikian) kepada Hamdani dari Tabloid Hukum dan Politik Modus, berikut ini.

Kisah ini kumulai dari saat aku masih duduk di bangku kuliah di salah satu ibu kota Provinsi, yaitu kota ”B”, aku kuliah di Jurusan Ekonomi dan mengambil Program Diploma III, di salah satu Perguruan Tinggi Swasta ”S” yang merupakan salah satu Perguruan Tinggi Swasta yang cukup ternama di kota Provinsi tersebut. Hari-hari kulalui dengan penuh kegembiraan dan wajar-wajar saja sebagimana para mahasiswa lainnya, masalah uang biaya kuliah juga tidak terlalu bikin aku pusing, karena keluargaku cukup mampu untuk membiayai segala kebutuhan kuliahku. Aku adalah anak tertua dari lima bersaudara, adikku satu orang cewek dan tiga orang cowok. Meski tidak bisa dibilang kaya raya tetapi orangtuaku termasuk orang yang cukup berada di kota kecilku, sebut saja kota ”K”, yang merupakan kota kedua setelah Ibu Kota Kecamatan, yaitu Kota ”G”.

Hari-hari kulalui di kota ”B” dengan penuh riang gembira sebagaimana remaja-remaja lain seusiaku, aku juga berpacaran sebagaimana umumnya remaja yang lain, dan pacarku tersebut adalah orang yang sekabupaten dengan ku, yaitu Kabupaten ”A”, istilahnya orang sekampung lah, sebut saja namanya Bang Boy (nama samaran). Kebetulan juga Bang Boy kuliah di Perguruan Tinggi yang sama denganku. Bang Boy orangnya sangat baik, meski tidak terlalu ganteng, karena Bang Boy orangnya hitam dan aku putih (kata teman-temanku aku cukup cantik), tapi Bang Boy orangnya cukup baik. Dia adalah lelaki yang lembut dan penuh pengertian, sebenarnya benih-benih cinta telah mulai tumbuh di hati kami berdua saat kami hampir menamatkan bangku Sekolah Lanjutan Atas, kebetulan kami satu sekolah di Kabupaten ”A”. Sampai akhirnya ternyata kami bertemu di Kota ”B” dan kuliah di perguruan tinggi yang sama, terasa semuanya memang serba kebetulan.

Perjalanan cinta kami mulus-mulus saja, kami tetap setia terhadap pasangan masing-masing, tidak terasa usia pacaran kami sudah hampir empat tahun, suatu rekor pacaran yang termasuk hebat, karena umumnya remaja-remaja lain seusiaku sering gonta-ganti pacar. Tetapi kami tetap mempunyai komitmen yang tinggi terhadap perjalanan cinta kami, karena kami ingin hubungan pacaran ini bisa dilanjutkan ke jenjang yang lebih luhur, kami ingin menjaga cinta ini tetap suci dan abadi sampai ke anak cucu, setidaknya demikianlah janji kami berdua suatu hari.

Hari-hari terus berganti, sampai akhirnya aku menamatkan kuliah ku di Kota ”B”, setelah selesai di wisuda aku kembali ke kampung halamanku, dengan membawa ijazah Diploma III, seperti orang lain yang baru menamatkan kuliah, aku masih bersemangat dan berpikir suatu saat aku akan mendapat pekerjaan yang sesuai dengan pendidikanku. Tetapi dalam masalah pekerjaan ini aku sangat realistis, artinya aku tidak terlalu berharap dan menggantungkan harapan yang terlalu tinggi, agar nanti tidak terlalu kecewa, apalagi mungkin untuk menjadi seorang Pegawai Negeri misalnya. Tetapi keinginan itu tetap ada dan selalu terpatri di dalam hati.

Kembali ke masalah hubunganku dengan Bang Boy, ternyata Bang Boy adalah orang yang cukup menepati janji, karena tidak lama setelah aku menamatkan kuliah, dia datang meminangku kepada orangtua, tanpa halangan yang berarti dari kedua belah pihak keluarga kami, yang juga menyetujui hubungan kami selama ini, semuanya memang lancar-lancar saja, kupikir karena memang ini sudah jodohku. Karena setelah itu kami telah bertunangan, usia pertunangan kami memang tidak begitu lama, karena selang beberapa bulan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak keluarga, kami melangsungkan perkawinan.

Sampailah pada saat-saat yang paling meneganggkan buatku, yaitu saat mengunggu hari-hari untuk ijab kabul, karena setelah itu aku akan menjadi seorang istri yang harus tetap setia dan mengabdikan diri kepada seorang laki-laki yang disebut suami, dan aku sangat bersyukur, karena yang akan menjadi suamiku adalah orang yang menjadi pacarku selama ini. Lengkap sudah terasa kebahagiaanku, sehingga hari-hari menjelang ijab kabul tersebut kunanti dengan penuh harap-harap cemas, tidur rasanya tak nyenyak makan pun rasanya kurang selera, semua terasa seperti salah tingkah. Tetapi perasaanku sangat bahagia.

Sampailah pada saat hari yang paling bersejarah dalam hidupku, yaitu hari pernikahanku. Semua lancar-lancar saja, tidak ada kendala yang berarti. Aku tersenyum sumringah menatap Bang Boy yang kini telah jadi suamiku. Duh, suami. Terasa masih canggung, tetapi itu adalah hal yang wajar dalam suatu kehidupan, hal-hal baru akan terasacanggung. Tapi nanti semuanya akan jadi biasa saja seiring dengan perjalanan waktu.

Beberapa hari berselang setelah acara ijab kabulku, tibalah acara peresmian perkawinanku, lengkap sudah kebahagiaanku saat duduk bersanding di pelaminan dengan lelaki yang menjadi pujaanku selama ini, karena kepada lelaki ini lah aku akan menyerahkan hidupku dan mengabdikan diriku, aku bertekad akan mejadi istri yang setia dan baik, sehidup semati. Meskipun sangat melelahkan duduk bersanding dengan Bang Boy yang aku cintai hampir seharian di atas pelaminan, tetapi aku puas, aku sangat bahagia saat itu.

Singkat cerita, hari-hari awal perkawinan menjadi hari-hari yang sangat istimewa, bulan madu istilah orang-orang, meski semuanya terasa canggung tetapi akhirnya akan menjadi biasa-biasa saja dan wajar kupikir. Toh, walaupun aku cukup lama berpacaran dengan Bang Boy tetapi aku butuh beradaptasi juga, misalnya dalam hal tidur, maklumlah biasanya aku tidur sendiri tiba-tiba ada seorang lain yang tidur di samping kita, meski itu adalah seorang suami tentu akan menimbulkan rasa risih juga. Duh...!

Tidak lama usia perkawinanku, aku telah merasa ada gejala lain dalam perutku, aku hamil. Sungguh, saat itu merupakan suatu kebahagiaan yang sangat besar buat aku dan Bang Boy, kami bersyukur cepat diberi momongan oleh Tuhan. Aku bertekad akan menjaga kandunganku dengan baik, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada kandunganku, dan Bang Boy juga sangat memperhatikanku, serta sangat memanjakanku, dan Bang Boy akan sangat marah kalau aku bekerja cukup keras, karena dia sangat mencemaskan kandunganku akan terganggu karenanya, sekali lagi aku sempat bersyukur mempunyai seorang suami yang baik. Aku bangga dan bahagia menjadi istri Bang Boy.

Tidak terasa usia kandunganku telah memasuki bulan kesembilan, aku dan Bang Boy telah mempersiapkan segala hal yang berhubungan untuk menyambut kelahiran bayi pertama kami, aku dan Bang Boy harap-harap cemas menunggu hari kelahiran tersebut, terutama aku, kadang-kadang aku sangat cemas, maklum ini adalah pengalaman pertama melahirkan, tentu perasaan cemas seperti ini dirasakan juga oleh setiap wanita lain yang akan melahirkan, tetapi Bang Boy selalu mendampingiku dan membesarkan hatiku, sehingga aku merasa damai berada di sisi Bang Boy. Tiba saatnya melahirkan, akhirnya aku melahirkan seorang bayi laki-laki, dan wajahnya sangat mirip dengan Bang Boy, dan kulihat wajah Bang Boy sangat bahagia, sehingga aku juga turut bahagia, ini hadiah cintaku buat Bang Boy.

Saat usia anakku hampir setahun, konflik di Aceh mencapai puncaknya, yaitu sekitar tahun 2001 dan 2002, rasa damai dan aman yang selama ini kami nikmati terasa musnah, yang ada hanya rasa cemas yang menghantui pikiran. Konflik bersenjata antara GAM dan TNI/Polri tengah memuncak saat itu, sering terjadi kontak tembak antara gerilyawan dengan aparat keamanan, mereka kedua belah pihak yang tengah bertikai tersebut saling mengklaim kemenangan dan keberhasilan dalam pertempuran masing-masing menurut versi mereka, tetapi rakyat yang seharusnya dilindungi tetap menjadi korban dan terasa terjepit di antara dua kekuatan besar, hampir terasa tidak punya pilihan saat itu. Di depan rumah orangtuaku ada pos aparat keamanan, sering beberapa kali pos itu diserang oleh gerilyawan bersenjata, sehingga membuat aku dan Bang Bob yang saat itu masih menumpang di rumah keluargaku di Kota ”K” merasa cemas dan tidak nyaman, aku dan Bang Boy sangat mencemaskan putra kami. Oleh sebab itu, akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke Kota ”L”, yaitu sebuah kota yang menjadi ibu kota sebuah kabupaten.

Hidup di Kota ”L” terasa lebih nyaman, setidaknya urat-urat syaraf bisa sedikit kendor, ketegangan sedikit mereda. Aku bisa sedikit bernafas lega, setidak-tidaknya bisa membesarkan putraku dengan perasaan tenang, dan tidak terlalu cemas seperti yang kualami seperti di kota kecil ”K”. Saat itu aku telah kembali mengandung anak keduaku, dan usia kandunganku telah mencapai tujuh bulanan. Sampai tiba pada suatu hari aku dan Bang Boy harus pulang ke Kota ”K”, karena ada sedikit keperluan keluarga. Ternyata keputusan pulang ke Kota ”K” ini lah yang telah mengubah perjalanan hidupku, dan hal ini sangat kusesali hingg kini, walau aku percaya takdir tetapi ini terasa sangat menyakitkan. Sungguh, sangat menyakitkan.

Hari yang mengubah jalan hidupku dan rumah tanggaku adalah hari Jumat di tahun 2003, aku masih ingat saat itu aku dan Bang Boy telah dua hari berada di Kota ”K”, rencana sore hari kemarin kami akan berangkat pulang kembali ke Kota ”L” karena urusan keluarga sudah beres kemarin. Tetapi, itu lah takdir, kami memutuskan untuk pulang besok (maksudnya hari Jumat). Waktu menjelang Sholat Jumat, Bang Boy pamit untuk pergi Sholat Jumat ke Mesjid yang tidak jauh dari rumahku, dengan mengenderai sepeda motor butut milik adikku, ternyata pamit Bang Boy saat itu adalah pamitnya yang terakhir, karena setelah bubaran Sholat Jumat Bang Boy tewas ditembak oleh OTK, dia memang agak telat pulang ke rumah setelah bubaran Jumat karena harus ke toko obat dulu untuk membeli Vitamin C kepada putra kami. Tiga peluru telah bersarang di tubuhnya, menurut keterangan orang-orang Bang Boy tewas di tempat saat itu.

Hatiku terasa hancur mendengar kabar Bang Boy meninggal, duniaku terasa gelap, siapa mereka-mereka yang tega-teganya memisahkan seorang putra dengan bapaknya? Siapa mereka sehingga merasa sangat berhak untuk membuat seorang anak yang masih berada dalam kandungan untuk tidak sempat melihat bapaknya? Sungguh kejam, mereka tidak berperikemanusiaan, apakah mereka tidak membayangkan bagaimana seandainya hal ini menimpa keluaraga-keluarga mereka? Apakah mereka pantas menggantikan peran malaikat pencabut nyawa? Padahal, tangan-tangan mereka selama ini selalu berlumur darah orang-orang yang tidak berdosa.

Saat melihat suamiku yang telah tewas berlumuran darah saat aku dan beberapa orang keluargaku untuk menjemput jasad pria yang kucintai yang saat itu yang telah tergelatak di pasar Kota ”K”, dadaku terasa sesak, aku nyaris pingsan. Tapi, tidak...aku harus tegar agar aku bisa melihat suamiku dan ikut merasakan penderitaan yang dirasakan olehnya, walau terasa sangat berat mempertahankan keseimbangan tubuh aku tetap berusaha untuk tidak jatuh, akhirnya aku tetap bisa kelihatan tegar pada orang-orang, meski sebenarnya hatiku telah terasa remuk. Hati siapa yang tidak hancur, melihat suami yang dicintainya telah tewas berlumuran darah karena dibunuh oleh orang-orang yang katanya pejuang untuk rakyat dan pembela rakyat itu, padahal baru dua jam yang lalu Bang Boy masih segar-bugar saat pamit padaku untuk pergi Sholat Jumat, bahkan sebelumnya masih sempat bercanda denganku dan dengan putra pertama kami dan mengecup keningku sabagai tanda sayang, itulah kecupan terakhir sebagai tanda perpisahan dari Bang Boy. Tiba-tiba dia pulang telah menjadi mayat. Duh...selamat jalan Bang Boy, kekasih hatiku, cintaku...Aku akan berjanji akan membesarkan anak-anak kita sendiri. Sanggupkah?

Sepeninggal Bang Boy hari-hari yang kulalui terasa hambar, hidupku terasa sepi. Tapi aku tidak mau kehilangan semangat dan harapan, karena aku harus membesarkan dua putra buah cintaku dengan Bang Boy, meskipun hatiku hancur mereka harus tetap tegar, agar hidup mereka tetap bersemangat. Banyak pria yang bersimpati dan ingin melamarku, tapi semua kutolak, aku tidak ingin mengkhianati cinta Bang Boy, aku nggak tega. Biarlah aku hidup sendiri dulu.

Sampai suatu hari ada seorang pria hadir dalam kehidupanku, sebenarnya perkenalanku dengan pria ini juga terjadi secara kebetulan, sebut saja namanya Bang Anto. Kehadirannya dalam kehidupanku karena keisenganku juga, saat itu ada seorang siswaku yang agak akrab denganku (saat ini aku telah menjadi seorang guru honorer) ingin pergi ke kota ”M” dia bertanya padaku, ”bu, saya bawa oleh-oleh apa bu?” Lantas aku menjawab, ”saya jangan bawa oleh-oleh apa-apa, tapi kamu cariin suami lah buat ibu” kataku bercanda dan iseng-iseng. Tapi keisenganku ini ternyata ditanggapi serius oleh siswa tersebut, dia memberikan nomor handphone ku pada abangnya yang berada di kota ”M” tersebut. Maka terjalinlah komunikasi di antara kami, pertama hanya saling SMS- SMSan akhirnya telepon-teleponan, ternyata Anto semakin serius.

Akhirnya Bang Anto pulang ke Aceh khusus untuk berjumpa denganku, perkenalan pertama meninggalkan kesan yang mendalam di hati kami berdua. Aku juga bingung saat itu, entah perasaan apa yang ada saat itu di hatiku tehadap Bang Anto, yang jelas aku merasa simpati padanya, tetapi aku juga merasa berdosa dan mengkhianati Bang Boy. Aku bingung dan aku sedikit gamang. Tapi aku harus realistis, aku dan anak-anakku butuh pelindung. Ternyata hari demi hari perjalanan kisah-kasihku dengan Bang Anto semakin serius, diapun berjanji mau menerimaku apa adanya, termasuk anak-anakku untuk menjadi bagian dari hidupnya. Aku tersentuh, dan aku terenyuh. Maka akhirnya aku menerima kehadiran Anto dalam hidupku.

Saat aku memutuskan menerima pinangan Bang Anto, aku pergi ke pusara bang Boy, aku bersimpuh di pusara Bang Boy, aku mohon maaf, bukan aku tidak setia...! aku menangis, bagiamanapun Bang Boy adalah lelaki yang sangat kucintai, tidak ada lelaki lain yang akan menggantikan Bang Boy di hatiku, tetapi aku akan memberikan bagian hatiku yang lain untuk Bang Anto. Aku ingin Bang Anto jadi yang terakhir buatku, mudah-mudahan keputusanku ini adalah keputusan yang benar, keputusanku ini juga karena aku sangat sayang pada anak-anakku, aku ingin mereka menjadi seperti anak-anak orang yang lain, punya ayah dan ibu, dan supaya mereka juga punya pelindung.****

KARENA TERTEKAN HAMPIR KUBUNUH SUAMIKU

Walaupun sebuah perkawinan pada awalnya dilandasi dengan cinta dan punya harta yang melimpah, tetapi tidak menjamin sebuah rumah tangga akan bahagia dan langgeng kalau antara kedua belah pihak tidak saling menghargai perasaan pasangan masing-masing. Malahan sebuah rumah tangga yang penuh intimidasi dan otoriter akan berakibat fatal dan tragis. Hal ini seperti pengalaman pahit sebuah rumah tangga, seperti yang diceritakan kembali oleh Linda (sebut saja demikian) kepada Hamdani dari Modus. Berikut penuturannya.

Aku adalah seorang gadis yang ceria pada awalnya, walaupun aku adalah gadis desa tetapi aku mempunyai bekal pendidikan yang cukup, hal ini karena orangtuaku berprinsip walaupun mereka hanya seorang petani tetapi anak-anaknya haruslah menjadi orang sukses. Karena itu aku berhasil menamatkan Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Aku sengaja bersekolah di SPG dengan pertimbangan agar cepat mendapat kerja untuk jadi guru. Sehingga nantinya akan bisa membantu meringankan beban ekonomi keluargaku yang hanya sebagai petani.

Pertengahan tahun 80-an aku telah menamatkan SPG ku, saat itu karena kebaikan seorang kepala sekolah yang masih relatif muda berumur sekitar 35 tahun aku diterima untuk menjadi salah seorang tenaga honorer di Sekolah Dasar (SD) yang letaknya jauh di pedalaman di sebuah kecamatan di Kabupaten Bireuen.

Tetapi kebaikan kepala sekolah yang masih relatif muda tersebut, dengan menerimaku menjadi salah seorang tenaga honorer di sekolah yang dipimpinnya, ternyata ada maunya ada udang di balik batu kata orang-orang. Karena ternyata Pak Rizal (bukan nama sebenarnya) menyimpan hasrat yang terpendam padaku. Mengetahui hal ini aku cuek saja, toh saat itu aku juga belum punya pacar jadi tidak ada masalah Pak Rizal menyukaiku, karena kupikir tidak ada yang akan tersakiti.

Suatu hari seusai jam belajar dan murid-murid sudah bubaran, aku dipanggil ke ruangan kepala sekolah. Aku merasa ada sesuatu hal yang penting yang akan dibicarakan, mungkin menyangkut kinerjaku di sekolah yang Pak Rizal pimpin atau ada hal-hal lain, aku tidak mau menduga-duga.

Sesampai di ruangan kepala sekolah, Pak Rizal menyambutku dengan ramah dengan wajah tersenyum sumringah. Aku terpaku sembari membalas senyumannya, sembari menarik kursi yang ada di hadapannya untuk duduk. Tiba-tiba Pak Rizal memecah keheningan dan berkata, ”Maaf telah mengganggu waktu ibu.” Ujarnya berbasa-basi sambil tersenyum untuk mencairkan suasana.

Kemudian Pak Rizal melanjutkan, ”Saantai aja bu Linda, rilek. Maaf, sebenarnya ini hanya masalah pribadi, tetapi karena saya tidak sanggup memendamnya dari pada jadi penyakit lebih baik kan saya ungkapin aja kan?” Tanya Pak Rizal seakan mengiyakan.

Saat mendengar kata-kata Pak Rizal tersebut, aku hanya diam dan menunduk, tidak sepatah katapun bisa keluar dari mulutku. Tetapi, naluriku sebagai wanita sudah bekerja, apalagi selama ini aku sudah mendengar selentingan kabar tentang Pak Rizal yang naksir aku. Tapi, aku tidak menduga Pak Rizal akan secepat ini mengungkapkan perasaannya padaku.

Akhirnya dengan nada yang tegas Pak Rizal menanyakan padaku, ”Apakah kamu mau menjadi ibu dari anak-anakku?”

Saat itu aku tidak berkata apa-apa, aku hanya mengangguk kecil tanda setuju. Tetapi aku minta waktu juga untuk membicarakan dengan orangtuaku sekaligus untuk mempersiapkan mentalku. Bagaimanapun aku belum siap sebenarnya.

Beberapa waktu setelah pembicaraan tersebut, dan terjadi saling komunikasi antara kami dan saling silaturrahmi, kami merasa ada saling kecocokan, cuma yang agak kurang aku sukai dari sikap Pak Rizal, dia orangnya agak cemburuan, tetapi aku buang jauh-jauh perasaan tidak nyaman tersebut, aku berusaha menghibur diri dengan berpikir Pak Rizal cemburuan karena terlalu mencintaiku. Akhirnya kedua belah pihak dari keluarga kami menyepakati untuk melangsungkan perkawinan antara kedua mempelai.

Sebulan setelah acara perkawinan yang melelahkan berlangsung, Pak Rizal mulai menampakkan sikapnya yang asli, dia menyarankan aku untuk berhenti saja mengajar, dia beralasan seorang wanita tugasnya cukup jaga rumah saja dan mengurus suami, karena yang mencari rezeki sudah kewajiban suami, tidak baik seorang wanita sering beraktifitas di luar rumah. Pertamanya aku keberatan juga dengan usulnya, tetapi setelah Pak Rizal memberi alasan-alasan yagn menurutku masuk akal, meski berat kuikuti juga keinginan Pak Rizal yang telah jadi suamiku, sebagai tanda baktiku padanya.

Hari-hari sepi mulai menjalariku sepeninggal suami untuk berdinas, aku yang biasanya ada aktifitas tiba-tiba berhenti dari aktifitas hanya bisa bengong di rumah tidak tahu apa yang harus kukerjakan. Apalagi kami telah tinggal di rumah sendiri, yang memang sudah dipersiapkan Pak Rizal sebagai hadiah perkawinan katanya. Bulan-bulan pertama adalah waktu yang sangat menyiksa, hari-hari terasa sangat panjang. Hanya mesin jahit tua yang selalu menemaniku mengawali hari-hari yang membosankan itu.

Memasuki bulan ke enam perkawinan kami, aku merasakan ada kelainan di perutku, aku berpikir mungkin ini hamil, apalagi bulan ini aku agak terlambat datang bulan, ini tidak biasanya. Aku sangat gembira, kukabari hal ini pada suamiku sepulang diri sekolah, dia pun kelihatan sangat gembira. Sorenya dengan bergegas kami memeriksakan diri ke bidan praktik terdekat, hasilnya positif, aku hamil. Kami sujud syukur.

Setelah kehamilanku memasuki bulan-bulan terakhir dan siap-siap untuk melahirkan, aku minta pulang ke tempat orangtuaku, karena kupikir biar mudah dalam mengontrol, pertamanya suamiku keberatan, dia menyarankan ibuku saja yang tinggal di rumah kami untuk semantara dan merawat aku. Tetapi saran ini setelah kubicarakan dengan ibu tidak mungkin dipenuhi, karena ibu juga harus merawat ayah yang sudah tua dan sering sakit-sakitan.

Akhirnya proses kelahiran yang aku takutkan tiba juga, aku melahirkan seorang bayi laki-laki. Suamiku juga sangat gembira karena dia juga mendambakan seorang anak laki-laki. Setelah sampai masa iddah, aku langsung dijemput oleh suami, untuk pulang ke rumah kami.

Setelah mempunyai seorang anak, kehidupan rumah tangga kami tetap tidak berubah, monoton dan membosankan, aku selalu di kekang, hanya untuk pulang ke rumah orangtua ku saja aku jarang diizinkan oleh suami, ada saja alasan yang disodorkan yang kadang-kadang tidak masuk akal, bergaul dengan tetangga sekitar juga sangat jarang kulakukan. Sehingga tetangga menganggapku sombong. Pelan-pelan keadaan ini membuat perasaanku jadi aneh, aku semakin merasa rendah diri dan tertekan. satu-satunya yang bisa menghiburku adalah anakku yang sudah tumbuh empat tahun dan sedang lucu-lucunya.

Pulang ke rumah suami juga jarang bertegur sapa denganku, entah kenapa. Padahal tidak ada masalah yang mengganjal selama ini, dia hanya sering bercanda dengan anak kami, tetapi dengan ku nyaris tidak pernah bertegur sapa. Mungkin dia marah, karena aku sering membantah perkataannya, sehingga dia dongkol sendiri. Tapi entahlah, dia tidak pernah terbuka, suamiku tidak pernah mau dialog mengenai masalah rumah tangga kami, dia terlalu angkuh dan aku merasa semakin hari dia semakin otoriter dalam mengatur hidupku.

Menghadapi sikap suami yang semakin tidak bersahabat, di rumah aku merasa bagai tinggal di tempat asing, rumah tanggaku sudah tidak normal lagi kurasa. Tapi aku selalu bersabar, saat beban di dada sudah semakin memuncak aku selalu berpikir sehat dan memandang kearah putra kami satu-satunya yang belum mengerti arti konflik orangtuanya.

Sampai suatu hari kesabaranku hilang sudah, hari itu suamiku membuat peraturan baru, aku dilarang keluar rumah tanpa alasan yang jelas, katanya kalaupun aku keluar rumah harus ada izin suami. Peraturan apa ini pikirku, suamiku terlalu paranoid, suamiku terlalu cemburu kukira. Aku tidak bisa terima ini, tiba-tiba aku sudah gelap mata, saat itu bocah kecilku sedang terlelap di ayunan, aku berlari ke dapur, kusambar parang yang tergeletak di sudut dapur, kucari suamiku yang saat itu sedang berbicara dengan seseorang di tepi jalan di depan rumah kami. Tanpa ba bi bu aku langsung menghantam parang ke tengkuk suamiku sambil menjerit histeris.

Suamiku langsung jatuh menggelepar, saat itu aku berpikir dia sudah mati, aku merasa sangat puas, hilang sudah segala beban di dada yang selama ini menyesakkan jiwa. Plong rasanya. Seketika terjadi kepanikan warga, meraka berhamburan keluar rumah untuk menolong Pak Agus. Mereka benar-benar tidak menduga akan terjadi tragedi pada rumah tangga kami, apalagi para tetangga berpikir selama ini rumah tangga kami adalah rumah tangga yang harmonis dan ideal, tetapi siapa menduga semua itu hanya kamuflase.

Saat itu aku langsung berlari ke jalan raya sambil mengacung-acungkan parang yagn berdarah sambil berteriak-teriak, ”Mampus kau Agus! Aku bebas, aku merdeka!” Aku benar-benar tidak sadar dan berpikir aku sudah gila. Akhirnya aku roboh tidak sadarkan diri.

Saat sadar aku sudah di ruangan yang serba putih, dua petugas dari kepolisian nampak menjagaku, aku saat itu belum mengerti benar tentang keadaan yang terjadi. Sampai kesadaranku pulih benar aku bertanya pada salah seorang petugas, ”Dimana aku, dimana anakku?”

”Ibu saat ini ada di rumah sakit, ibu shock, anak ibu ada di rumah.” Jawab petugas ramah tapi tegas.

Setelah aku pulih benar, aku sempat berurusan dengan pihak berwajib karena tuduhan percobaan pembunuhan terhadap suamiku, tetapi karena berkat lobi-lobi dan jaminan-jaminan yang diberikan oleh pihak keluargaku aku bisa terbebas dari jeratan hukum.

Setelah semua masalah selesai akhirnya aku mengajukan gugatan cerai terhadap suamiku, tanpa urusan yang terlalu rumit akhirnya Pengadilan Agama mengabulkan gugatanku terhadap upaya gugatan ceraiku. Resmilah kami bercerai, anak tetap dibawah bimbinganku. Lega rasanya setelah berpisah dengan Pak Agus. Setelah beberapa bulan bercerai Pak Agus ada beberapa kali menghubungiku dan meminta aku untuk rujuk, tetapi aku sudah berketetapan hati untuk tidak menerima rujuk dari Pak Agus. Biarlah aku hidup sendiri sambil membesarkan anakku.***

KARENA DEPRESI AKU HAMPIR BUNUH DIRI

Rumah tanggaku pada awal-awalnya adalah rumah tangga yang bahagia, apalagi kehidupan keluarga kami cukup mapan dan terpandang, suamiku bekerja di salah satu perusahaan besar, yaitu perusahan eksplorasi minyak yang ada di Nanggroe Aceh Darussalam. Saat-saat bahagia dan berkecukupun kami lalui dengan penuh keindahan, karena kehidupan kami yang mapan, maka sering pada akhir pekan kami pergi ke Medan untuk sekedar refreshing bersama keluarga, atau hanya sekedar berbelanja menghabiskan waktu libur.

Tahun-tahun bahagia terus berlalu seiring perjalanan waktu, tidak terasa usia perkawinan kami juga telah menjelang senja, kami telah mempunyai anak-anak yang remaja. Anak kami berjumlah lima orang. Sampai tiba-tiba pada suatu hari, suamiku pulang dengan wajah lesu, ”ada apa pak? Kok murung begitu wajah papa?” tanyaku penasaran. ”Ah, bu...kemungkinan perusahaan akan melakukan PHK besar-besaran tahun ini, karena alasan konflik perusahaan tidak bisa bereksplorasi dengan bebas.” Jawabnya malas, ”apa papa juga kemungkinan termasuk orang yang akan kena PHK?” Tanyaku cemas, karena terbayang akan menghadapi kesulitan dalam keuangan, kalau suamiku sudah tidak bekerja. ”Bukan hanya kemungkinan bu! Tapi, hampir pasti, mulai bulan depan sudah ada karyawan yang akan dirumahkan.” Kata suamiku malas dan tidak bersemangat, kemudian dia melanjutkan, ”mungkin untuk gelombang pertama ini papa belum kenak giliran, tapi yang pasti akan tiba juga giliran papa.” Terbayang rasa putus asa di wajah suamiku saat menjelaskan hal tersebut, aku juga ikut panik. ”Kita tidak punya banyak tabungan, kita terlalu boros selama ini ya Pa?” Aku berkata panik. ”Ya sudah lah, waktu yang tersisa ini harus kita manfaatkan untuk menabung, kita harus mengencangkan ikat pinggang, anak-anak harus dibiasakan untuk berhemat mulai sekarang, mudah-mudahan pesangon yang akan diberikan perusahaan nantinya bisa kita jadikan buat modal.” Jelas suamiku panjang lebar.

Teranyata waktunya tiba juga, akhirnya apa yang kami cemaskan terjadi juga, suamiku tetap di PHK oleh perusahaan tempatnya bekerja. Terlihat gurat kekecewaan di wajah suamiku saat mememberitahukan kepadaku tentang masalah PHK tersebut, sebagai istri aku tetap menyuruhnya bersabar dan bersabar, ”sabar lah pa, mungkin ini adalah cobaan dan jalan takdir yang menimpa keluarga kita, suka atau tidak kita harus tetap menjalaninya dengan penuh keikhlasan dan lapang dada.” Kataku mencoba untuk menenangkan jalan pikiran suamiku, walau sebenarnya aku sendiri tidak tenang, aku resah dan panik memikirkan tentang ekonomi keluargaku, bagaimana nasib studi anak-anakku dan sebagainya. Yang paling aku cemaskan memang anak-anak, terutama yang sudah besar, karena biasanya mereka hidup berkecukupan dan mewah tiba-tiba harus kehilangan sesuatu yang berharga tentu akan meimbulkan shock dan terbeba secara psikologis.

Ternyata apa yang aku takutkan terjadi juga, anak sulungku yang telah memasuki kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Lhokseumawe, sering bentrok dengan adiknya yang masih SMA, kadang-kadang hal-hal sepele juga menjadi konflik yang membesar, sehingga jurang pemisah antara sesama anak-anak juga semakin besar. Menghadapi realita seperti itu aku juga ikut stress, aku bingung dan kehilangan harapan, sementara suamiku yang kuharap menjadi pelindung dalam keluarga juga sudah tidak bisa diharapkan perannya, dia semakin sibuk dengan dunianya, kelihatannya suamiku depresi berat, dia kelihatan minder. Aku sebenarnya sangat kasihan melihat nasib suamiku tersebut, tapi apa daya? Apa yang bisa aku lakukan?

Hari demi hari kulalui dengan penuh ketidak nyamanan, keluargaku semakin centang perenang, tiap hari di dalam rumah seperti perang besar, anak-anak sering berantam sesamanya, terutama si sulung yang sudah kuliah dengan yang nomor dua yang masih SMA, aku semakin panik keadaan ekonomi keluarga juga semakin sulit, uang pesangon yang diberikan perusahaan yang diberikan kepada suamiku juga semakin menipis. Untuk menyelamatkan keadaan keluargaku yang semakin memburuk ini aku memutuskan untuk membuka usaha kecil-kecilan di depan rumah, karena kebetulan rumahku dekat dengan jalan raya, sehingga kuanggap strategis untuk membuka warung kecil-kecilan.

Hari-hari pertama pengunjung warung masih sepi, tetapi memasuki minggu kedua dan ketiga sudah ada peningkatan, sehingga sering aku meminta tolong kepada anak-anakku yang sudah menanjak remaja itu untuk membantu menjaga warung, tetapi mereka tidak mau, ”aku nggak mau jaga warung mak, gengsi.” Begitu jawab mereka ketus, setiap kali aku minta tolong untuk menjaga warung. Akhirnya dengan mengurut dada yang terasa kian perih terpaksa aku bekerja sendiri membuka warung, kadang-kadang kalau ada keperluan misalnya untuk shalat terpaksa aku harus menutup warung dan kembali membukanya kalau urusan sudah selesai.

Walau keadaan semakin memburuk aku mencoba tetap untuk bertahan, tetapi kesabaran ada batasnya, aku sudah hampir putus asa, aku semakin depresi, sering kalau duduk sendiri aku melamun. Bengong kata orang, entah kenapa akal sehatku mulai tidak bekerja, sementara suamiku juga semakin pemurung, anak-anakku juga semakin liar, sulit di atur. Puncak dari kekecewaanku pada suatu hari anak sulungku memutuskan untuk tidak kuliah lagi, kalau kutanya kenapa, ”malas!” Jawabnya ketus. Aku kembali hanya bisa mengurut dada menghadapi anak-anakku yang keras kepala itu.

Menghadapi situasi yang semakin tidak nyaman ini pada suatu hari entah setan apa yang membisikiku untuk mengakhiri saja hidupku ini, perasaanku kalau sudah mati nyaman rasanya tidak harus menghadapi segala kesumpekan ini. Saat itu aku sedang menjaga warung, dengan langkah gontai aku masuk ke dalam rumah dan saat itu kulihat ada guntung di atas mesin jahit tua di dalam rumah, tanpa berpikir panjang aku langsung mengambilnya, saat itu aku sudah bertekad untuk mengakhiri saja hidup ini dengan menggunakan gunting ini, aku berpikir sekali tusuk pasti penderitaan ini akan berakhir. Dan croot...croot.... aku mulai menusuk perutku, darah mulai mengucur aku mulai panik, di antara sadar dan tidak aku masih sempat mendengar suara anak sulungku menjerit, kemudian menyusul suamiku, setelah itu aku tidak sadar lagi. Saat itu dunia sudah gelap, aku berpikir sudah mati.

Saat tersadar aku telah berada di sebuah ruangan yang terasa asing bagiku, serba putih, oh..ternyata aku sedang berada di sebuah kamar rumah sakit, hal ini kuketahui saat aku melihat jarum infus. Saat kesadaranku benar-benar pulih, aku melihat seluruh keluargaku telah berkumpul di dalam ruangan, mereka nampaknya gembira dengan kesadaranku, kulihat wajah suamiku pucat dan sedih, kelihatan kurang tidur, si sulung juga kelihatan sedih, mungkin dia merasa berdosa. Semua kelihatan sedih sekaligus gembira melihat aku telah siuman. Si sulung tiba-tiba merangkulku, ”mak...maafkan sikapku selama ini.” Kemudian juga menyusul suamiku. Akhirnya kami sekeluarga bertangis-tangisan.

Setelah kejadian tersebut, akhirnya keluargaku bersatu dan harmonis kembali. Aku tidak henti-hentinya memanjatkan syukur dan memohon ampunan kepada Allah, karena masih diberi umur panjang dan diberi kesempatan untuk hidup kembali menjalani sisa-sisa kehidupanku dan bertobat karena telah hampir salah langkah karena mencoba untuk bunuh diri. Keluargaku juga sudah kompak kembali, si sulung juga sudah mau masuk kuliah lagi, dan dia juga sudah rajin membantu di warung kecil kami, anakku yang nomor dua sepulang sekolah juga sudah mau membantu, demikian juga suamiku, sehingga aku sekarang sudah semakin cukup waktu untuk istirahat. ”Demikianlah kisah hidupku dek, mudah-mudahan bisa menjadi pelajaran buat orang lain, supaya dalam menjalani kehidupan ini tidak mudah menyerah dan putus asa, banyak hal yang bisa kita lakukan kalau kita mau sedikit bersabar.” Demikianlah ujarnya kepada Hamdani dari Tabloid Hukum dan Politik Modus saat mengakhiri pembicaraan pada suatu hari di pertengahan bulan Mai 2007.

KUPIKIR SUAMIKU TELAH TEWAS AKU MENIKAH LAGI

Manusia hanyalah makhluk yang lemah dan tiada berdaya, di tengah kefanaan dunia yang penuh dengan kamuflase dan fatamorgana. Tidak ada pilihan lain buat manusia selain menerima takdir baik dan buruk dari Yang Maha Kuasa. Yang penting, apapun yang menimpa, itulah yang terbaik buat diri manusia tersebut, keluh kesah hanya akan membuat stress, masalah tetap tidak akan selesai. Maka sebelum berbuat dan mengambil keputusan, berpikir lah terlebih dahulu. Ibarat kata pepatah kalau sudah terlanjur maka seperti nasi telah jadi bubur, tidak akan ada artinya lagi. Seperti kisah yang menimpa Sumarni (samaran), seorang janda yang memutuskan untuk menikah lagi dengan suami orang karena mengira suaminya sudah meninggal. Kisah lengkapnya berikut ini seperti yang dituturkan kepada Hamdani dari Modus.

Aku adalah seorang istri yang membina mahligai rumah tangga dengan seorang pria, sebut saja Abdullah (samaran). Saat itu aku telah dikaruniai empat orang anak, kehidupan rumah tangga kami relatif bahagia, meski kadang-kadang sering terjadi pertengkaran kecil hal ini wajar-wajar saja, karena kami masih sama-sama muda.

Meski suamiku tidak mempunyai kerja yang tetap, tetapi suamiku cukup bertanggung jawab terhadap keluarga, dan dia cukup rajin mencari rejeki apasaja, pokoknya halal. Memang suamiku tidak mempunyai kerja yang tetap, tetapi selalu bisa memenuhi kebutuhan minimal keluarga kami. Oleh sebab itu, aku pantas bersyukur.

Saat itu pertengahan tahun 1998, eskalasi politik di Aceh sedang memanas, DOM telah dicabut tetapi keadaan semakin meruncing. Banyak terjadi pergerakan-pergerakan rahasia, aku tidak tahu apa itu. Tetapi beberapa kali ada orang yang asing kulihat mengadakan rapat kecil-kecilan di rumah kami yang sederhana, tetapi sayup-sayup aku menangkap ada pembicaraan politik di antara mereka, tetapi sebagai wanita desa yang tidak tahu politik aku sama sekali tidak peduli terhadap hal-hal tersebut, yang penting bagiku Bang Abdullah tiap hari membawa belanjaan dan anak-anak kami tidak pernah kelaparan sudah cukup.

Awal tahun 2000 suamiku sudah semakin jarang pulang ke rumah, kudengar dari bisik-bisik tetangga, bahwa suamiku adalah salah seorang anggota GAM yang mempunyai jabatan sebagai Pang Sagoe, mendengar kabar tersebut aku merasa cemas juga, tetapi aku tidak bisa mencegah karena walaupun suamiku seorang yang cukup baik dan lembut, tetapi kalau keinginannya di tentang maka dia akan marah besar. Aku tahu persis sifat suamiku tersebut.

Semakin hari ketegangan antara RI dengan GAM semakin memuncak, suamiku nyaris tidak pernah pulang lagi ke rumah. Uang belanja kadang-kadang dikirim melalui jasa seorang kurir. Hari-hari kulalui dengan segala kecemasan sebagai seorang istri gerilyawan, setiap mendengar ada pertempuran antara TNI/Polri dan Gerilyawan GAM dan ada jatuh korban, aku berharap tidak ada keterlibatan suamiku dalam pertempuran tersebut, aku tidak sanggup membayangkan seandainya suamiku yang jatuh korban, bagaimana nasib anak-anakku. Entahlah, aku selalu dalam kecemasan menanti ketidakpastian.

Sampai suatu hari di awal-awal tahun 2004 datang seorang kurir ke rumahku membawa berita duka cita, yang mengabarkan suamiku telah tewas dalam sebuah pertempuran antara pasukan TNI/Polri dan pasukan GAM di pedalaman Aceh Utara. Mendengar kabar tersebut aku langsung melayang, dan jatuh pingsan, duniaku terasa gelap aku kehilangan kendali diri. tetapi aku tetap berharap mudah-mudahan berita itu bohong.

Tetapi harapanku hanya harapan semu, karena setelah berita tersebut nyaris tidak pernah kudengar kabar tentang Bang Abdullah suamiku, hari-hari berlalu seiring berjalannya waktu, semakin membuat keyakinanku terhadap keberadaan suamiku mulai memudar, aku semakin yakin bahwa suamiku memang telah benar-benar pergi. Ya, aku yakin suamiku telah tewas.

Setahun telah berlalu, penantian telah berada di tapal batas, aku sudah pasrah bahwa suamiku telah tewas. Bahkan setiap selesai sholat aku tidak lupa memohon doa semoga suamiku damai di alam baqa.

Sejak ditinggal suami aku hanya berpikir bagaimana harus memberi makan empat orang bocah kecilku, agar mereka tidak kelaparan dan mereka bisa gembira seperti anak-anak sebayanya. Maka, saat itu pekerjaan apasaja aku lakoni yang penting halal agar anak-anak bisa makan, seperti mengambil upahan mencuci dan mencongkel pinang juga aku lakukan, karena pada saudara-saudaraku tidak bisa diharapkan untuk menolong kami, karena mereka juga miskin-miskin sepertiku.

Dalam status janda tentu banyak cobaan dan godaan yang datang menghadang, apalagi aku masih muda dan walau telah mempunyai empat orang anak tetapi aku masih menyisakan sedikit kecantikan, hanya karena penderitaan hidup yang membuat kecantikanku sedikit memudar.

Sering aku digoda oleh beberapa orang pria, tetapi semua itu kuanggap sebagai keisengan pria belaka, tetapi sebagai wanita normal aku merasa berdesir juga, apalagi masih muda kebutuhan biologis masih tetap kubutuhkan, karena kesepian aku mengakui mulai butuh, tetapi kutepis jauh-jauh pikiran negatif itu. Aku masih belum mau menduakan Bang Abdullah.

Sampai suatu hari datanglah seorang laki-laki paruh baya bertamu ke rumahku, yang terakhir kuketahui bernama Husni (samaran), sebagai seorang tuan rumah yang baik tentu aku harus mempersilahkan orang yang datang secara sopan-sopan ke rumah sebagai tamu. Setelah sempat berbasa-basi sejenak, waktu mau permisi untuk pulang dia memberikan sedikit uang buatku, buat anak-anak katanya, pertamanya aku menolak pemberian yang tidak jelas tersebut, tetapi dia berusaha meyakinkanku bahwa pemberian tersebut tidak ada maksud apa-apa, kecuali hanya sekedar bersimpati dan ingin menolong sesamanya, maka akhirnya kuterima pemberian itu dengan berat hati.

Setelah kedatangan yang pertama, selang beberapa waktu kemudian Bang Husni datang lagi ke rumahku, dan kembali memberi uang ala kadarnya buat kebutuhan anak-anak katanya. Saat itu nyaris kehilangan alasan untuk tidak menerima pemberiannya tersebut. Aku mulai merasa tidak enak, pasti ada maksud apa-apa di balik pemberian tersebut, apalagi menyangkut dengan statusku yang janda, dan aku yakin tidak ada yang gratis di dunia ini, semua pasti harus ada imbalan.

Ternyata dugaanku benar, suatu hari Bang Husni mengungkapkan isi hatinya, dia berkeinginan untuk menjadi pelindung buat aku dan anak-anakku, alias jadi suamiku. Aku kaget, dengan pernyataannya yang tiba-tiba itu, aku tidak bisa menjawab, mulutku terasa terkunci. Tetapi akhirnya aku tetap pada pendirianku, aku menolak pinangan Bang Husni tersebut, alasanku saat itu karena ia sudah mempunyai keluarga, dan aku tidak ingin disebut janda yang merusak rumah tangga orang. Akhirnya hari itu ia pulang dengan raut wajah kecewa, tetapi tetap memberi uang buat anak-anakku.

Penolakanku ternyata tidak menyurutkan semangat Bang Husni untuk memperistrikan aku, berselang beberapa waktu kemudian ia datang lagi ke rumahku, dan kembali menyodorkan pertanyaan yang sama, ”Maukah kamu menikah denganku?” dan jawabanku tetap, ”Tidak, aku tidak ingin rumah tangga abang rusak gara-gara aku, aku tidak ingin di cap sebagai perusak rumah tangga orang, apalagi statusku saat ini janda.” Jawabku memberi alasan.

Tetapi dia tidak mudah menyerah, keinginannya begitu kuat, di sini aku teringat dengan profil Bang Abdullah yang tidak mudah menyerah kalah. ”Aku sudah mendapat izin istriku, jadi tidak ada alasan kan?” Ujarnya tiba-tiba penuh kemenangan.

Saat itu aku tidak bisa menolak lagi, meski aku ragu-ragu tetapi apa dayaku? Aku berpikir anak-anakku butuh makan, dan pernikahan adalah jalan yang halal meski dengan suami orang. Dengan tekad yang bulat dan penuh pertimbangan akhirnya aku nekat mengatakan bersedia jadi istri keduanya. Dengan penuh kemenangan akhirnya ia pamit dan mencium tanganku, sambil menyelipkan uang seratusan ribu di tanganku, ”Buat belanja dan anak-anak.” ujarnya singkat dengan raut wajah gembira.

Akhirnya resmilah aku jadi istri kedua Bang Husni, hari-hari kulalui dengan damai meski agak was-was karena aku belum yakin perkawinan kami direstui oleh istri pertamanya, firasatku ternyata benar, pada suatu hari ada seorang tamu wanita yang datang ke rumahku, dan dia mengaku sebagai istri dari Bang Husni. Ia mengaku kecewa dengan keputusanku menerima Bang Husni, aku dianggap telah merayu suaminya dan merusak rumah tangganya. Saat itu aku merasa sangat malu dan hanya bisa tertunduk lesu. Sambil menyumpah serapah dia meninggalkan rumahku tanpa permisi.

Yang lebih menyakitkan, semakin hari Bang Husni semakin menampakkan sikap aslinya yang suka marah-marah dan ringan tangan, sering tanpa sebab dan kesalahan yang jelas dia langsung menggampar aku. Sakit rasanya, tapi yang lebih sakit ada hatiku, aku teringat suamiku yang dulu Bang Abdullah, meski suka marah-marah tetapi tidak pernah ringan tangan.

Pada suatu malam, enam bulan setelah penandatanganan MOU di Helsinki Finlandia, saat itu Aceh sudah mulai normal dan TNI/Polri juga sudah ditarik dari Aceh, dan mantan kombatan GAM sudah menyatu kembali dengan masyarakat, banyak yang dulu pergi entah kemana kini telah kembali ke kampung halaman. Saat itu sempat juga aku berpikir seandainya Bang Abdullah masih hidup tentu ia juga sudah pulang ke rumah ini, gubuk yang dulu dibangunnya dengan susah payah.

Dalam lamunanku yang belum usai di depan mesin jahit tua, aku mendengar langkah kaki di luar rumah. Ada ketukan pintu di luar, pelan dan ragu-ragu. Aku agak bimbang untuk membukanya, aku takut jangan-jangan maling, saat itu Bang Husni sudah terlelap dalam dengkur panjangnya yang kadang sangat mengganggu tidurku. Kembali aku mendengar ketukan, dengan suara yang ragu aku memberanikan diri bertanya, ”Siapa?”

Kemudian sayup-semayup kudengar suara di luar, ”Assalamualaikum! Ini Abdullah!” Ujar suara di luar ragu-ragu.

Duh, suara itu! Aku mengenal suara itu yang telah lama tidak kudengar, suara mendiang suamiku Bang Abdullah, tapi mungkinkah atau hantunya Bang Abdullah? Saat itu aku jadi merinding, aku menggigil ketakutan saat itu kaki terasa berat melangkah untuk lari, mulut juga terkunci. Aku benar-benar ketakutan. Di tengah ketakutan yang melanda, kembali terdengar suara ketukan yang agak keras, sambil memberi salam. Saat itu pikiranku sudah bekerja, hantu tidak mungkin sejelas ini pikirku. Ah, mungkin mirip saja dengan suara Bang Abdullah, ujarku dalam hati sambil beranjak untuk membukakan pintu.

Dengan tangan gemetar, kutarik gagang pengait pintu dan terbuka lah pintu. Sosok di luar nyaris membuatku pingsan karena ketakutan. Ternyata benar Bang Abdullah. ”Sumarni? Ini abang.” Dia berusaha menyapaku sambil mencoba meraih tanganku.

”Bang Abdullah?” Ujarku tidak yakin nyaris seperti orang ling lung, ”Ya, aku bang Abdullah, suamimu.” Ujarnya. Mendengar kata-kata suami aku kembali terhenyak, suamiku? Bukankah aku telah kawin lagi karena menganggap Bang Abdullah telah meninggal?

Setelah masuk ke dalam dan mendengar ada suara dengkuran lelaki lain di bekas kamar pengantin kami, akhirnya Bang Abdullah mengerti keadaan telah berubah, dan aku menceritakan semuanya sambil tidak henti-hentinya memohon maaf sambil menangis, saat itu Bang Husni suamiku telah terbangun, dia juga menceritakan segalanya sambil memohon maaf. Akhirnya Bang Abdullah mau mengerti tentang keadaan tersebut, setelah mencium empat buah hati yang telah lama dirinduinya dia permisi, dengan langkah lunglai dia pergi dari rumah yang dulu dibangunnya. Entah dengan pikiran apa, tetapi aku tidak ingin Bang Abdullah pergi sebagai lelaki yang kalah. Selamat jalan kekasih...!!***

SUAMIKU BERSELINGKUH DENGAN IBU KANDUNGKU

Tragedi dan prahara adalah merupakan sebuah cobaan dan ujian yang diberikan Tuhan kepada hamba-Nya, agar hidup menjadi lebih bermakna dan bijaksana, dan Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan manusia, yakin lah! Seperti penuturan Inong (sebut saja demikian) wanita berusia 26 tahun. Saat dia menceritakan kegetiran dan prahara yang menimpa rumah tangganya, pada Hamdani dari Modus, dalam suatu pertemuan di dalam perjalanan dengan menggunakan Bus Pelangi menuju Medan. Berikut ini adalah penuturannya.

Aku adalah seorang seorang wanita yang merasa sangat berbahagia, dan saat itu aku bersyukur dilahirkan menjadi seorang wanita, karena bisa berbakti dan mendedikasikan seluruh hidup kepada seorang pria yang disebut suami, sebut saja Bang Andi yang berusia 30 tahun. Pada awal-awal perkawinan, kami lalui dengan penuh riang gembira, masa bulan madu kata orang-orang. Apalagi penghasilan suamiku cukuplah untuk ukuran kota kecil Bireuen. Suamiku adalah seorang karyawan di salah satu proyek vital di Aceh Utara, otomatis dengan pekerjaan Bang Andi yang mapan tersebut, penghasilannya cukup memadai untuk menghidupi kami bertiga (aku dan ibuku). Karena usia perkawinan kami masih baru, maka kami memutuskan untuk tinggal menumpang di rumah ibuku dulu, apalagi ibuku yang sudah ditinggal mati bapak selama 4 tahun akan merasa kesepian kalau tiba-tiba dia hanya akan tinggal sendiri di rumah kami yang lumayan besar. Karena selama inipun hanya aku dan ibuku yang tinggal berdua di rumah, abang-abangku semuanya telah menikah dan tinggal di rumah sendiri, karena mereka sudah hidup mapan, bersama keluarga mereka. Aku adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kami berpikir, biarlah ibu jangan merasa kehilangan dan terlalu kesepian, dan butuh waktu untuk beradaptsi. Keputusan kami tersebut membuat ibu cukup senang dan bahagia.

Keputusan kami untuk tinggal serumah dengan ibuku inilah yang menjadi awal petaka dan tragedi dalam kehidupan rumah tanggaku, sebuah aib yang benar-benar tidak terpikirkan sebelumnya menimpa rumah tanggaku. Hal yang sangat memalukan sekaligus menjijikkan dan ini sangat sulit diterima akal sehat. Yaitu, affair antara suamiku dan ibu kandungku yang notabene adalah mertuanya sendiri, aku nggak mau tahu siapa yang salah, ibuku atau Bang Andi kah, yang jelas mereka telah berselingkuh dan ini merupakan hal yang sangat tabu dan aib yang sangat memalukan kita sebagai orang timur apalagi bagi kita yang mendiami Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yangselalu mendengung-dengungkan sebagai daerah yang menjalankan Syariat Islam secara kaffah, dan yang lebih menyakitkan kejadian ini terjadi pada saat-saat usia perkawinan kami masih seumur jagung, dimana pelayanku terhadap Bang Andi masih sangat prima, jadi tidak ada alasan rasanya kalau aku dikatakan kurang dalam hal pelayanan di atas ranjang. Mungkin ini hanya masalah iman dan moral-moral manusianya saja wallahualam.

Kejadian memalukan tersebut terbongkar pada suatu pagi menjelang Shubuh, saat itu aku terbangun karena ingin buang air kecil, malam menjelang pagi itu udara terasa sangat dingin karena semalam hujan turun dengan derasnya di kota keripik tersebut, aku dengan bermalas-malasan bangun juga, saat itu aku belum sadar kalau Bang Andi sudah tidak ada di tempat tidur, sampai saat kesadaranku pulih aku baru terkejut dan heran, kemana Bang Andi? Tanyaku membatin. Oh, mungkin dia juga sedang ke kamar kecil, kebetulan. Soalnya aku agak takut juga ke kamar kecil malam-malam begini yang terletak agak di belakang dekat dapur dan melawati kamar ibuku. Biasanya kalau aku bangun tengah malam begini terpaksa juga membangunkan Bang Andi untuk menemani aku ke kamar mandi, biasanya walaupun agak ngomel-ngomel maklum lah terganggu tidurnya karena mungkin capek dalam bekerja, tetapi dia tetap mau juga menemani aku. Karena berbekal keyakinan bahwa Bang Andi telah duluan ada di kamar mandi maka aku bergegas beranjak untuk segera menyusulnya. Sambil berjalan pelan-pelan dan tanpa firasat apa-apa saat itu aku melawati kamar ibu, tapi aku heran kamar ibu kok pintunya agak terbuka gitu? Duh ibu, tidur kok bisa lupa nutup pintu kamar seh? Kataku membatin. Tapi, di kamar ibu kok ada suara-suara aneh yagn mencurigakan ya? Aku merasa semakin heran, dan tiba-tiba perasaanku merasa tidak enak, firasatku sudah lain. Tapi, ah....tidak mungkin! Tidak mungkin!

Dengan perasaan yang semakin penasaran dan hati yang semakin galau tidak enak, aku terus mendekati kamar ibu dengan berjingkat-jingkat supaya tidak menimbulkan suara yang mencurigakan. Persis sampai di depan pintu kamar ibu yang terbuka sedikit pintunya, samar-samar di bawah temaram cahaya lampu kamar 5 watt yang berwarna merah aku melihat sepasang anak manusia yang sudah telanjang (maaf) sedang berpacu dengan nafsu. Dug, dug, andrenalinku mulai berpacu dengan kencang, otakku terasa beku, akal sehatku entah kemana, jantungku terasa copot. Tapi, rasa penasaranku mengalahkan segalanya. Dengan siapa ibuku tidur!? Jangan...Jangan...Duh, aku tidak berani membayangkan. Ternyata rasa penasaran yang memuncak membuat aku berani mendobrak pintu kamar ibu dengan keras. Brumm......!!!! Yang kurasa cukup mengejutkan peghuni kamar, yang sedang berpacu di puncak birahi tersebut. Masya Allah....!!! Ibu!...Bang Andi!!??.. Duh.. Aku terpana, saat itu otakku tidak bisa bekerja, aku diam mematung. Pemandangan di depanku membuat aku shock berat, tidak sediktpun terlintas di pikiranku bahwa suamiku akan berselingkuh dengan ibu kandungku. Duniaku terasa gelap saat itu, aku menjadi beku, diam mematung, otakku sudah tidak bekerja lagi, dan aku pingsan. Gelap.

Saat siuman aku telah berada di kamarku tepatnya di ranjang pengantinku, di luar keadaan telah terang, berarti sudah pagi. Saat itu kulihat suamiku juga ada di dalam kamar, aku mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi, tapi kesadaranku belum pulih benar. Mungkin aku shock berat, saat ingatanku pelan-pelan mulai pulih dan aku sedikit ingat tentang apa yang terjadi, aku masih berpikir atau lebih tepat dikatakan mencoba berharap bahwa kejadian semalam tersebut adalah suatu mimpi buruk yang baru saja kualami. Tapi, OH...TIDAAAAK! Aku mulai menjerit, kesadaranku mulai pulih, aku mulai sadar tentang realitas kejadian semalam. Untung rumah kami agak berjauhan dengan tetangga-tetangga lainnya sehingga tidak mengundang kepanikan dan perhatian tetangga, saat mendengar jeritanku yang keras tadi. Suamiku nampaknya mulai panik juga, tapi dia berusaha menenangkanku, kulihat dia ragu mendekatiku. ”Mana Mak..!! Tanyaku parau, dia menggeleng lemah. ”Mana Mak...!! Tanyaku lagi agak menjerit. Dengan gugup Bang Andi Menjawab, ”Mak telah pergi tadi Shubuh, dia titip salam buat kamu, dia mohon maaf...Dia mohon ampun...” Katanya memelas. ”Kenapa kamu juga tidak pergi?” Sergahku ketus. ”Kalian memang bangsat...!” Nafasku mulai ngos-ngosan saking emosinya ”Binatang...!!!” Kataku memaki, pikiranku sudah tidak waras, aku benar-benar merasa malu, kecewa, jijik campur aduk. ”Abang minta maaf dek...Abang khilaf”. Katanya menghibaatau lebih tepatnya memelas. ”Pergi sana kau anjing..!! Tiada maaf bagimu... Bangsat!!” Pekikku. Dengan bergegas kulihat suamiku beringsut keluar dengan tergopoh-gopoh. Saat tiggal sendiri sempat juga aku berpikir untuk bunuh diri, tetapi ini konyol, akal sehatku mulai bekerja. Kalau aku bunuh diri maka yang menang adalah syaitan, sedangkan aku kalah dunia dan akhirat. Artinya di dunia hancur di akhirat masuk neraka karena bunuh diri. Ah, tidak!

Duniaku terasa telah hancur sehingga akhirnya saat itu juga aku memutuskan untuk pergi sejauh mungkin dari rumah laknat ini, aku bertekad akan pergi sejauh mungkin kemana saja kaki ini akan melangkah, untuk mengobati duka dan lara hatiku yang resah dan hancur ini. Saat itu aku cuma tinggal sendiri di rumah, Bang Andi sudah berangkat sejak tadi tidak lama setelah aku siuman dan mengamuk, mungkin dia sengaja menghindariku dengan buru-buru pergi. Malu atau apa, entahlah! Aku sudah tidak perduli apa-apa tentang dia. Berbekal uang tabungan, dan perhiasan yang ada dan kutabung selama ini, dengan bekal ini aku yakin bisa menghidupi diriku untuk beberapa waktu sebelum mendapatkan kerja. Aku bergegas mempersiapkan barang-barangku, yang kuanggap penting seperti ijazah, beberapa potong pakaian kumasukkan ke dalam tas besar yang telah kupersiapkan sebelumnya, aku sengaja tidak membawa banyak-banyak karena tidak ingin kerepotan. Setelah selesai beres-beres, aku bergegas keluar dari rumah, ingin rasanya terbang secepatnya dari rumah laknat yang menjijikan tersebut, agar aku tidak mengingat-ingat lagi peristiwa yagn kusaksikan tadi Shubuh. Sebelum pergi kunci rumah kutitipkan sama tetangga terdekat, kepada tetanggaku kutunjukkan wajah yang biasa saja dan tidak menunjukkan kesedihan supaya tidak menimbulkan kecurigaan, meski sebenarnya di dalam aku sudah hancur, tapi biarlah aku saja yang tahu, aku tidak ingin dikasihani dan aku tidak ingin merepotkan orang lain.

Saat ini tujuanku adalah menuju Ibukota Sumatera Utara, Medan. Karena di Medan aku punya teman akrab waktu kami duduk di bangku SMA, mungkin untuk beberapa waktu aku akan menumpang di tempat dia, sambil mencari pekerjaan yang cocok buatku yang hanya tamatan SMA. Di Aceh aku sudah tidak bisa bertahan, duniaku sudah hancur di sini, aku akan melupakan Aceh. Mudah-mudahan langkahku ini benar walau terasa sangat menyakitkan, karena saat ini aku merasa nasib sedang menderaku, mungkin ini adalah awal dari perjalanan hidupku yang panjang. Aku akan mencoba merubah nasib di negeri orang. ”Mudah-mudahan kisahku ini menjadi hikmah buat orang lain. Bahwa hidup tidak lah semulus yang kita bayangkan, cobaan pasti tetap ada, tetapi aku yakin Tuhan masih tetap sayang sama aku”. Katanya, sambil mencoba untuk tetap tersenym, walau terkesan dipaksakan dan patah di tengah. Demikianlah, kata-kata yang terakhir kepada Hamdani dari Modus sambil menutup kisah hidupnya yang penuh kelam. Saat itu bus Pelangi yang kami tumpangi telah sampai di Langsa, jam telah menunjukkan Pukul 2.30 dinihari. Kulihat Icut sudah mulai tertidur. Tidurlah, istirahatlah dengan damai, mudah-mudahan esok adalah milikmu, untuk tetap bisa menggapai impian-impian.

JADI KURIR GANJA MENGANTARKU KE PENJARA

Penyesalan datangnya selalu terlambat setelah semuanya berlalu baru kita menyadari bahwa apa yang kita lakukan adalah tidak benar, tetapi kalau sudah terlanjur hanya taubat yang bisa kita lakukan sebagai insan untuk memohon keampunan atas kealpaan yang terlanjur kita lakukan. Karena pada dasarnya tidak ada manusia yang sempurna, semua punya dosa baik besar maupun kecil. Berikut adalah kisah penyesalan Samsul Bahri bin Sulaiman (50) alias pak kumis yang menceritakan pengalaman pahit getir masa lalunya kepada Hamdani dari Tabloid Modus Aceh di halaman parkir Lembaga Pemasyarakatan Kelas II Lhokseumawe, berikut ini penuturan lengkapnya.

Aku adalah seorang bapak dari dua anak yang masih kecil, anak tertuaku adalah perempuan sekarang telah berusia 10 tahun, sedangkan adiknya yang laki-laki masih berusia lima tahun, sedangkan istriku hanya seorang ibu rumah tangga. Mengingat mereka membuatku sangat sedih dan makin menyesali apa yang telah menimpa diriku, walaupun sampai detik ini anak-anakku tidak pernah mengetahui aku sedang dalam penjara. Hal ini sengaja aku dan istriku rahasiakan untuk menjaga perasaan anak-anak supaya mereka tidak minder dalam pergaulan sosialnya.

Aku dipenjara karena terlibat dengan kasus ganja, saat itu tahun 2004 Aceh masih dalam lingkaran konflik kebutuhan ekonomi terhadap keluarga begitu mendesak karena sulitnya mencari nafkah akibat keadaan yang tidak kunjung aman, sedangkan kebutuhan tidak pernah mau bertoleransi dengan keadaan. Konflik boleh tetap berlangsung tetapi perut anak istri harus tetap di isi setiap waktu.

Karena keadaan yang mendesaklah akhirnya aku terbujuk untuk menjadi kurir ganja, 200 kilogram ganja saat itu aku bawa dari Kutacane menuju Medan, dengan mobilku Toyota bak terbuka aku membawa barang haram tersebut, kupacu mobilku ke perbatasan dengan harapan aku bisa sampai di Medan tepat waktu. Saat itu oleh agen besar aku dijanjikan upah 18 Juta rupiah jika berhasil membawa ganja tersebut ke Medan, ini tentu sebuah upah yang sangat menggiurkan buatku, aku merencanaknan akan membangun rumah dengan uang sebanyak ini karena sampai saat ini aku masih tinggal di rumah mertua, dan hal itu sangat menggadaikan harga diriku sebagai seorang lelaki sejati.

Dengan mensiasati mobilku dengan cara melapisi lantai mobil dengan lantai baru dan aku menaruh ganja yang sudah kukemas dan kupres sebesar batu bata tersebut, dan ini sudah cukup aman kupikir, dan menurutku hanya Tuhan yang tahu apa yang kubawa dalam mobilku tersebut. Tetapi keyakinanku ternyata meleset jauh, karena sampai di perbatasan aku kena sweeping dari Brimob BKO yang sedang bertugas dan entah dapat bocoran darimana mereka kalau di bawah lantai mobilku ada barang haram aku juga bingung dengan hal ini apa aku dijebak?

“Selamat siang pak! Bisa minta surat-suratnya kenderaannya?” Ujar salah seorang anggota Brimob BKO tersebut dengan berpura-pura ramah pada awalnya.

“Oya, ya bisa…”. Jawabku berusaha menenangkan diri, meski jantungku agak berdegup kencang.

“Bapak bawa apa di belakang mobil”. Tanya salah seorang Brimob tersebut, sambil melihat mobilku yang ditutupi dengan terpal berwarna hitam.

“Tidak bawa apa-apa pak, kosong! Saya hanya mau belanja barang ke Medan”. Ujarku berdusta.

Tapi mereka terkesan tidak percaya, tanpa menunggu persetujuanku mereka langsung merobek terpal mobilku dengan sangkur yang ada di tangan mereka, setelah bak mobil terbuka mereka berusaha menusuk-nusuk lantai mobilku dengan ujung sangkur yang tajam. Dan akhirnya salah seorang dari Brimob BKO tersebut berseru lantang sambil mengangkat sebuah bungkusan sebesar batu bata sambil berseru.

“Hei anjing!!! Ini apa yang kaubawa?” Ujarnya marah, dengan mata melotot merah.

Saat itu tidak ada suara yang bisa keluar dari mulutku, aku berpikir saat itu bahwa hari ini adalah hari kematianku, sehingga hanya lafaz syahadat yang selalu kuucap dalam hatiku, tiba-tiba salah seorang dari mereka langsung menarik aku keluar dari mobil dengan kasar dari dalam mobil, jangan ditanya saat itu aku sangat-sangat ketakutan. Tiba-tiba “DUK!” satu pukulan keras menimpa ulu hatiku, mataku langsung berkunang-kunang, dunia terasa berputar aku langsung hilang keseimbangan dan jatuh. “BUK!”

Setelah jatuh tiba-tiba aku merasa punggungku dihantam dengan sepatu lars mereka, entah berapa kali tendangan dan pukulan menimpaku aku sudah tidak menghitung lagi, tiada waktu untuk menghitungnya, sampai tiba-tiba mereka menghentikan pukulannya setelah datang salah seorang petinggi polisi yang bertugas di Polres Aceh Tenggara merangkulku, “Sudah…sudah…”. Ujarnya terburu-buru, “Biar kami tangani kasus ini”. Lanjutnya lagi. Ternyata mereka telah menghubungi Mapolres Aceh Tenggara.

Kemudian dengan mobil patroli dari Polres Aceh Tenggara dan di dampingi beberapa orang anggota Brimob BKO aku dan mobilku dibawa ke Kutacane, aku saat itu hanya bisa pasrah dan dalam hati berterima kasih kepada anggota Polres Aceh Tenggara yang telah menolongku. Terakhir kuketahui dia adalah teman lamaku.

Akhirnya setelah berlangsungnya suatu proses penyidikan dan berkas perkaranya lengkap P-21 istilahnya, oleh pihak kepolisian aku langsung diserahkan ke Kejaksaan di Kutacane untuk segera dilakukan proses persidangan. Singkat cerita setelah berlangsung beberapa kali proses persidangan tibalah hari aku dijatuhkan vonis, dan saat itu hakim Pengadilan Negeri Aceh Tenggara di Kutacane menjatuhkan vonis kepadaku selama 10 tahun empat bulan penjara. Mendengar vonis hakim tersebut aku hanya bisa terhenyak di kursi pesakitan, tanpa mampu mengajukan pledoi. Inilah harga yang pantas buatku?

Setelah proses pengadilan selesai aku langsung di giring ke Lembaga Pemasyarakat Kutacane, kupikir tibalah hari-hari yang membosankan dan menjemukan di balik dingin dan pengapnya tembok penjara yang angkuh itu. Di LP Kutacane aku merasa sangat menderita karena semua fasilitas baik sanitasi dan makanan sungguh sangat membosankan, kami para tahanan sering diberikan ikan asin yang sudah busuk. Sedih sekali mengingat keadaan tersebut.

Hari-hari di LP Kutacane merupakan hari-hari yang penuh penderitaan, aku merasa sangat kesepian di balik terali besi yang sepi dan pengap, sementara kerinduan terhadap anak istri yang saat itu sudah kembali ke tempat orangtuanya di Kabupaten Bireuen membuat aku semakin tersiksa karena merasa semakin jauh dari anak dan istri. Sering aku menangis dalam keheningan malam mengingat mereka yang kesepian, anak-anakku yang masih kecil belum mampu mencerna tentang segala derita ini.

Dua tahun aku berada di LP Kutacane aku mengajukan permohonan pindah ke LP Lhokseumawe, dan istriku yang setia dengan bersusah payah berusaha mengurus segala urusan kepindahanku tersebut, dan ternyata berhasil walau harus menghabiskan biaya sampai 10 juta rupiah, tapi aku sangat puas dan berbahagia setidak-tidaknya bisa lebih dekat dengan keluarga.

Di LP Lhokseumawe aku merasa sangat berbahagia, fasilitasnya berbeda dengan LP Kutacane, di LP Lhoksemawe kebutuhan makan kami sangat dijaga baik lauknya maupun menunya. Walaupun penjara bukanlah tempat yang menyenangkan tetapi dibandingkan dengan LP Kutacane di sini aku merasa lebih tenang dan senang, LP Lhokseumawe adalah pesantren buatku.

Karena kelakuanku yang baik akhirnya aku dipercayakan oleh kepala LP atau Kalapas untuk menjadi tukang bersih-bersih di sekitar LP dan sekaligus merangkap jadi juru parkir di halaman LP dan uang hasil parkir kusetor sebagaian kepada koperasi LP, meski tidak banyak uang yang tidak seberapa dari hasil parkir itu berusaha kutabung.

Yang membesarkan hatiku sekarang adalah, saat ini aku sering diberi cuti setiap bulannya untuk menjenguk keluargaku selama tiga hari setiap bulan, saat kepulangan adalah saat-saat yang selalu kunanti-nantikan karena aku bisa bertemu dengan anak-anakku dan juga istriku tercinta yang telah setia selama ini menungguku. Dan saat bertemu dengan anak-anak selalu kukatakan bahwa aku baru pulang dari jauh untuk mencari uang sehingga mereka tidak curiga.

Insya Allah menurut keterangan Kalapas akhir 2009 kalau kelakuanku tetap baik aku sudah bisa mengajukan pembebasan bersyarat, dan hal ini sangat membesarkan hatiku karena akan kembali bisa berkumpul dengan keluarga untuk membangun sebuah rumah tangga yang normal dan bahagia. Rencananya setelah selesai hukuman yang kujalani ini aku akan bertani karena kebetulan aku punya sepetak tanah kebun di Desa Blang Ranto Kecamatan Sawang, saat itu kalau ada umur panjang aku ingin memulai hidup baru dan melupakan segala kegetiran hidup di masa sekarang. Kini aku hanya bisa menyesali hari-hariku, ternyata kurir ganja telah mengantarku ke penjara. Tetapi penyesalan saja tanpa pertobatan hanya akan sia-sia saja. Makanya hari-hari sepiku di LP Lhokseumawe kuisi dengan hal-hal yang positif dengan cara mendekatkan diri pada Allah SWT sehingga menjadi bekal buatku di akhirat kelak.***

ISTRIKU DIBAWA KABUR SEPUPUKU

Manusia kalau terus memperturutkan hawa nafsunya maka akan lebih hina dari binatang, oleh sebab itu jika nafsu sedang memuncak maka langkah yang terbaik adalah berpuasa atau berolahraga, kalau hal ini tidak dilakukan maka akan merusak keimanan. Seperti kisah yang diceritakan Malik (samaran) kepada Hamdani dari Tabloid Modus Aceh tentang tragedi rumah yang menimpa dirinya akibat nafsu kebinatangan yang dilakonkan adik sepupu dan istrinya sendiri. Berikut penuturan lengkapnya:

Aku adalah seorang suami yang sangat menyayangi istri, saking sayangnya aku pada istri aku memberikan kebebasan yang berlebihan terhadap istriku tersebut. Tapi, ternyata kasih sayangku yang berlebihan ini dimanfaatkan Ida (sebut saja demikian) dengan sebaik-baiknya, yang akhirnya menjadi bumerang buat rumah tanggaku.

Perkawinanku telah kurintis sejak lima tahun yang lalu, saat melangkah ke altar pelaminan usiaku memang sudah tidak terbilang muda, saat itu usiaku telah 35 tahun sedangkan istriku masih sangat muda, karena saat itu dia baru menamatkan bangku sekolah menengahnya, saat kupinang usianya masih 18 tahun. Sebuah usia yang masih rentan terhadap segala godaan dunia yang penuh kamuflase.

Ida mempunyai wajah yang cantik dan tubuh yang bahenol kata orang, banyak pemuda desanya naksir pada Ida, tahu potensinya yang sangat memikat tersebut Ida sering memanfaatkan keluguan pemuda-pemuda desanya untuk menguras isi kantong para pemuda tersebut, ya isi pulsa lah atau hape baru lah. Dan aku adalah salah seorang korbannya juga. Tapi menyadari modal sudah terlalu banyak keluar dan pada dasarnya akupun memang cinta mati sama Ida maka aku berniat mengawini Ida.

Karena tekadku untuk berumah tangga dengan Ida sudah bulat terpatri di dalam hati, maka untuk langkah pertama aku mengutarakan niatku tersebut langsung pada yang bersangkutan, yakni Ida. Tapi di luar dugaan niat baikku tersebut ditolak mentah-mentah oleh Ida, dia berasalan belum mau kawin karena masih terlalu muda. Mendengar penolakan tersebut aku bagai disambar petir, sakit benar hatiku saat itu karena merasa dia telah mempermainkanku selama ini, setelah begitu banyak aku mengorbankan materi untuknya.

Menyadari langkah pertama gagal aku tidak berputus asa, maka langkah selanjutnya adalah meminang Ida langsung pada orangtuanya. Alhamdulillah ternyata sambutan orangtua ida sungguh luarbiasa, apresiasinya terhadap hubungan kami ternyata cukup baik. Dengan setulus ikhlas mereka mendukung hubungan kami berlanjut ke pelaminan. Nah merasa keberuntungan sudah mulai berada dipihakku maka langkah selanjutnya adalah membujuk Ida kembali supaya mau berumah tangga denganku.

Setelah beberapa kali kubujuk dan dibujuk oleh orangtuanya ternyata akhirnya hati Ida luluh juga walau beberapa kali dia mencoba untuk menghindar dan hanya mau bertunangan saja dulu, tapi akhirnya Ida mau untuk menikah denganku. Menghadapi keadaan seperti ini hatiku sangatlah merasa gembira. Maka aku dan keluarga langsung mempersiapkan segala hal menyangkut prosesi pernikahan dan resepsi, karena aku tidak setuju tunangan-tunangan dulu seperti yang disarankan Ida.

Singkat cerita sampailah aku di pelaminan, acara resepsi pernikahanku tergolong meriah untuk ukuran desa kecil tersebut. Penat dan lelah tidak terasa lagi karena telah ditutupi oleh kegembiraan. Berkali-kali aku mengucap rasa syukur kepada Tuhan atas anugerah yang dilimpahkan kepadaku.

Bulan-bulan pertama perkawinan kebahagiaan masih melingkupi rumah tanggaku, aku semakin mencintai Ida demikian juga kurasakan sebaliknya. Ternyata hati Ida benar-benar telah luluh padaku. Menghadapi realita ini aku semakin memanjakan istriku, segala keinginannya kupenuhi tanpa pernah menolak sekalipun, walau pekerjaanku hanya pedagang yang membuka warung kecil di desa yang sering pulang larut malam, tetapi untuk memenuhi segala kebutuhan rumah tangga masih mencukupi apalagi belum dikarunai anak.

Memasuki tahun kedua badai prahara mulai menimpa rumahtangga kami, berawal dari bisik-bisik tetangga bahwa istriku tercinta ada main dengan adik sepupuku. Aku mengenyahkan jauh-jauh paraduga tersebut, karena kurasa hal ini tidak mungkin terjadi, hanya fitnah yang sengaja dihembuskan orang-orang yang tidak senang terhadap kebahagiaan rumahtanggaku.

Aku berpikir sangat tidak mungkin seorang adik sepupu apalagi sudah mempunyai istri sendiri akan tega berkhianat pada abang sepupunya, apalagi kami masih kuat sekali hubungannya karena ikatan tali wali yang dalam tatanan masyarakat Aceh sangat kuat ikatannya.

Tapi tak pelak akhirnya aku bergeming juga dengan isu-isu tersebut saat menghadapi realita bahwa istriku semakin susah diatur dan sering uring-uringan tanpa sebab. Sehingga aku semakin malas kalau pulang ke rumah, aku jadi semakin sering menyibukkan diri dengan daganganku. Yang aneh adik sepupuku yang ditunding oleh warga selungkuh dengan istriku karena menurut tetangga adikku itu sering sekali bertandang ke rumah di saat aku sedang jualan, jika berjumpa denganku selalu nampak tenang-tenang saja dan berusaha menegurku seramah mungkin. Sehingga aku semakin bingung dengan sandiwara ini.

Suatu malam timbul niatku untuk membuktikan kecurigaan warga dan rasa penasaranku terhadap isu yang beredar, maka malam itu seusai sholat Isya dengan mengendap-endap aku pulang ke rumah. Sengaja aku tidak masuk lewat pintu depan, tapi aku memilih jalan belakang harus melalui dapur yang tujuannya ingin memergoki istriku kalau memang ada selingkuh. Untuk sampai ke pintu belakang terlebih dahulu aku harus melawati kamar aku dan istriku, yang juga merupakan kamar pengantin kami. Saat itu hatiku berdegup kencang dan andrenalinku terasa lebih kencang, aku benar-benar tegang tapi kucoba menenangkan diri.

Saat melewati kamarku tersebut tiba-tiba telingaku menangkap suara-suara aneh dari dalam kamar, penasaran aku mencoba mengintip tapi pandanganku terhalang karena lampu dimatikan. Terasa darahku mendidih saat itu, ternyata apa yang selama ini dikatakan tetangga benar adanya istriku memang benar berselingkuh. Saat itu ingin rasanya berteriak keras-keras dan mendobrak dinding kamar dari luar, tapi hal itu tidak mampu kulakukan karena seluruh tubuhku terasa gemetar, saat itu aku langsung jatuh berkelonjotan, pingsan. Ternyata aku begitu lemah sebagai lelaki, aku merasa kalah.

Mungkin mendengar suara gedebak gedebuk dari luar yang di dalam menjadi panik dan langsung kabur. Hal ini kusadari saat aku siuman ternyata aku sudah berada di ruaangan istriku sudah ada di sampingku dengan wajah yang cemas (mungkin pura-pura) dan menanyakan apa yang terjadi terhadapku. Aku tidak bisa menjawab mungkin karena sakit benar terasa hatiku, gigiku gemelatuk badanku sangat menggigil saat itu. Ternyata emosiku masih sangat besar. Tapi sikap istriku malah tenang-tenang saja dia tidak kelihatan ketautan, malah dia menampilkan wajah kecemasan. Aku semakin bingung, mau marah-marah aku sangat mencintai istriku tersebut, aku merasa bagai seorang yang tidak punya pendirian saat itu.

Malam itu aku merasa tidak sanggup membuktikan perselingkuhan istriku, maka setelah berselang beberapa malam setelah kejadian pertama aku masih mencoba-coba untuk menyatroni rumahku malam-malam sambil berharap-harap dengan penuh kecemasan supaya aku bisa membuktikan kecurigaanku. Tapi ternyata aku tidak pernah sanggup membuktikan, mungkin mereka begitu licik dan licin dalam mengatur strategi? Entahlah.

Karena kupikir mereka sudah kapok dengan perselingkuhanya, aku mulai tenang maka kambuh lagi penyakit lamaku yang sering pulang larut malam. Sampai suatu malam saat kedaiku sudah kututup dan seperti biasanya aku pulang ke rumah. Tapi sampai di rumah aku merasa ada keanehan, kulihat lampu ruangan tidak ada yang menyala, ini tidak biasanya. Apa istriku cepat sekali tidur dan lupa menyalakan lampu? Tanyaku membatin.

Pelan-pelan aku berjingkat mendekati pintu depan, serr… darahku terasa mengalir lebih cepat. Betapa tidak? Ternyata pintu dikunci dari luar, jadi kemana istriku malam-malam begini belum pulang dan saat pergi juga tidak pamit padaku? Aku kebingungan sendiri di luar hampir 15 menit, kucoba menghubungi Ida melalui hape ternyata nomornya sedang tidak aktif. Tapi saat itu perasaanku mulai tidak enak. Aku mencoba mencari kunci rumah di tempat yang telah biasa kami tentukan kalau ada salah seorang di antara kami ingin berpergian.

Keesokan harinya Ida belum pulang juga, sehingga pagi-pagi kucoba untuk mencari ke rumah orangtuanya, ternyata di rumah orang tuanya Ida tidak ada juga, dan orangtuanya jadi ikut bingung. Anehnya Ana (samaran) istri sepupuku juga uring-uringan mencari suaminya dari semalam. Seminggu berlalu istriku dan sepupuku telah menghilang dari desa, sahih sudah kecurigaanku selama ini bahwa istriku telah kabur bersama-sama dengan adik sepupuku. Tinggallah aku sendiri dalam penyesalanku akibat terlalu memanjakan istri akhirnya inilah yang kuterima. Tapi yang tidak habis kumengerti kenapa adik sepupuku begitu nekat membawa kabur istriku dan dia sendiri juga nekat meninggalkan istrinya dan anak-anaknya yang masih kecil, dan istriku juga belum kucerai bagaimana mereka harus melewati hari-harinya apakah mereka berzina? Nauzubillah!***